Ucapan Mario Teguh yang sangat menancap di benak saya adalah "Jika Anda bisa menjadi elang, untuk apa Anda masih melata di bawah sana?". Wah...kalimat yang benar-benar super! Aku merasa tertampar dengan kalimat ini. Aku merenung, mungkin elang itu adalah diriku. Lalu mengapa aku masih begini-begini saja ya?
Bilang saja aku seorang yang sombong. Tapi, apa aku harus mematikan potensiku? Aku masih berpikir bahwa aku belum maksimal menggali bahkan menggunakan kemampuan yang kumiliki. Kepuasan itu masih jauh panggang dari api untukku.
Yes, I am the eagle. Let the world know that I can fly over the sky and tell them that I ALWAYS CAN !!!
Sering aku kebingungan menjalani hidup, tidak tahu apa sebenarnya tujuan hidupku secara lebih konkret. Ketika egoisme meraja, sulit rasanya untuk menyukuri apa yang telah diperoleh selama ini. Tetapi ketika aku berjumpa dengan realita, kadang yang muncul justru penyesalan.
Aku hanya ingin bahagia, menjalani hidup tanpa dihantui kebingungan, dan aku hanya ingin cukup, tak perlu berlebihan. Namun, proses untuk menuju ke sana ternyata terlalu membingungkan untukku. Rasanya seperti tersesat dalam labirin.
Aku ingin melangkah maju, namun ketakutan tak juga beranjak dalam hatiku yang selalu meragukan apakah langkahku kali ini benar-benar mendekatkanku pada kepastian atau malah menjadi sebuah kemunduran.
Aku sebal dengan perasaan ini, perasaan yang sangat membingungkan. Aku ingin menjadi makhluk yang bersyukur tanpa mengendurkan semangatku untuk terus maju. Itu saja.
Day by day past, I realized that the truth had made me further with my hope. Maybe my faith doesn’t allow me to fulfill my willing. Only God knows why.
I think I'm losing you.
You seemed to be really happy with your new life.
And it is yes.
That moment took you away from me.
Listen my friend,
I think I'm losing you now.
Satu fase kehidupan saya jalani bersama teman-teman yang sudah kuanggap keluarga, HIMAKOM. Bahkan sampai saat ini, saya masih hafal siapa-siapa saja yang berada dalam kepengurusannya.
Kerja kami berawal dari menggarap Bedah Iklan A Mild yang berujung pada Ita masuk UGD Moewardi. Malam-malam, brik-brikan lewat walkie talkie di Teater Besar STSI bareng Dapid (Bidang V HIMAKOM...hehe) terus godain cewek lewat frekuensi yang entah dapat dari mana. Setelah itu, mati listrik katanya.
Terus pekerjaan dilanjutkan dengan Mediasi. Ada saya, Tyan, dan Yayan yang bertanggung jawab sebagai SC, tapi sepertinya formasi ini agak aneh . Malam hari sebelum hari H saya pulang dari kampus ke kos jam 12 malam, jalan kaki sendiri!
Ada juga yang namanya HIMAKOM Big Event. Kali ini Angga jadi ketuanya lho. I think that moment was Angga’s best performance ever! Saya ingat pernah bersitegang dengan Roma, sampai-sampai saya WO dari acara Training PR.
Oya, acara yang paling mengasyikkan itu waktu jalan-jalan ke Baron dan Kukup! Senang sekali rasanya bisa “merasa bebas” bersama teman-teman. Lari-lari, terbawa ombak, dan makan-makan tentunya. Di sepanjang jalan pulang-pergi ditemani lagunya Danu (Apa ya judulnya? Sangking bosennya jadi lupa :b)
Pada waktu itu, saya merasa berada dalam rumah kedua. Banyak canda, tawa, bahkan duka yang saya lalui bersama teman-teman HIMAKOM. Tapi semua sudah berlalu, yang ada sekarang hanya kenangan masa lalu. Tapi tak masalah, mereka tetap berada dekat, di sini.
(Tyan, Agus, Anto, Roma, Dewy, Ratih, Prita, Dito, Angga, Yayan, Eka, Andi, Danu, Rika, Sika, Tika, Rani, Indah, Irfan, Indra, Ozi, Purwadi, Nain, ---kurang ga ya?--- plus...Pandu, Dapid, Elka, Tifa...thanx 4 supporting...maaf kalo ada yang terlewat)
Hello there...how’s 2day? ^_^
Actually, I don’t want to care anything about him as long as he stay away from my bussiness. He's the true thief and a corruptor. I think my company doesn't need to employ someone like him and rewards him with that big amount of salary.
In the working day, he always come late, more than an hour. He gets rest more than 2 hours each day. And the worst is he often miss every deadline!
Yesterday, I feel so suck of him because he stole my idea with that innocent face. I didn't know what to do, I was speachless...OMG!
I wonder why this person can even exists in this world! What word can discribe this person?
Saya hanya ingin berceritera tentang dirinya, seorang gadis yang tersakiti karena kupu-kupu.
Hari-harinya ia lalui dengan senyum, tak ada satu pun kekurangan dalam hidupnya. Hingga suatu hari, kupu-kupu itu datang dan segera memenjarakan mimpi-mimpi indahnya. Saya tahu ia menjerit dalam hati. Memohon pada Tuhan agar menjauhkannya dari jeratan kupu-kupu yang akan menemaninya hingga akhir masa.
Dalam usianya, ia ingin beriang gembira. Si gadis pun pasrah, tapi tak akan menyerah.
Kupu-kupu bisa saja merenggut hidupnya. Ia tahu, hidupnya mungkin tak seindah dulu. Tetapi ia harus berjuang, demi melihat orang yang disayanginya tersenyum.
Dua hal yang membuat saya sering memutar otak. Bahkan dalam sebuah wawancara kerja, saya ditanya tentang perbedaan dari keduanya. Meski berpikir at a glance, saya jawab saja bahwa keduanya adalah hal yang bertolak belakang. Disiplin adalah sesuatu yang sudah semestinya dimiliki oleh setiap orang untuk memenuhi kewajibannya, sedangkan fleksibel merupakan hal yang mungkin dipenuhi agar seseorang tidak kehilangan haknya.
Lalu si pewawancara pun meminta contoh yang lebih konkrit tentang perbedaan antara keduanya. Gampang saja saya pikir, misal; sebagai seorang karyawan yang perusahaannya memiliki jam kerja dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore, maka si karyawan pun harus mengikuti aturan itu. Jika si karyawan mematuhinya, maka dia sudah berperilaku disiplin. Namun, jika si karyawan melanggar, (menurut saya) seharusnya dia diberi punishment atas ketidakdisiplinannya itu.
Berbeda dengan fleksibel, sebagai seorang yang beragama, si karyawan berhak untuk menjalankan ibadahnya, atau mungkin ia harus meninggalkan tempat kerja karena orang tuanya meninggal dunia.
Tapi, saya berpegang bahwa keduanya adalah hal yang penting. Bayangkan mau jadi apa seseorang tanpa sebuah kedisiplinan dalam dirinya. Atau, bayangkan jika kita tidak memiliki sifat yang fleksibel, mungkin kita akan dijauhi karena menjadi orang yang sangat kaku. Silakan berpusing-pusing ria dengan pendapat saya ini. ^_^
Emang sih, makhluk bernama Afgan ini lagi digandrungi banyak remaja cewek. Meski udah ga remaja lagi, aku dan sang sahabat ikut-ikutan suka sama Afgan. Alhasil, pembicaraan yang ga jelas juntrungannya itu malah mengarah pada hal-hal yang irasional (sbetulnya sih aku yang ada aja jalan buat mengarahkan). Geli juga kalo diingat-ingat. Ya ampuuuun!!! Umur dah musim nikah gini ya yang diomongin slalu ”diarahkan” ke tema pernikahan. Siapa pula yang ga mau kalo disodorin Afgan, cowok (lumayan) ganteng, suaranya bagus, terkenal, kuliah di UI lagi! Halah, pikiran yang terlalu macam-macam!
Biasanya, seperfect apapun manusia, ada aja jeleknya (dan topik ini juga jadi bahan obrolan kami). Aku masih bersyukur Afgan ada celanya di mata kami. Kalo ga, wah...urusan jadi berabe kalo tiap saat, tiap waktu mikirin and ngomongin Afgan terus. Thanks Afgan, u save us! ^_^
But anyway, Afgan still can be perfect in my eyes...
i just like him (afgan syah reza, of course!), for this time.