Kejadian dua hari lalu tak pernah aku duga sebelumnya. Seperti rutinitas tiap harinya, sebelum berangkat kerja aku mengantar kakak hingga setengan perjalanan ke tempat kerjanya nun jauh di Sleman sana. Hanya saja, yang berbeda dari hari-hari sebelumnya, setelah mengantar aku pergi ke sebuah digital printing di daerah Ring Road Utara. Tapi, ternyata tempat itu belum buka hingga aku memutuskan untuk pergi ke digital printing di daerah Gejayan.
Untungnya tempat digital printing di Gejayan ini sudah buka. Waktu menunjukkan pukul 8.15 waktu aku sampai. Setelah menunggu setengah jam, cetakanku sudah kelar. Jamku sudah berangka 8.45. Wah, aku kudu buru-buru ke kantor karena aku sudah telat terlalu lama. Kalau presensiku lewat dari jam 9.00, gajiku pasti dipotong.
Untuk menuju kantor, aku harus memutar balik jalan, karena jalan di daerah ini memiliki dua lajur yang terpisah. Setelah siap dengan helm standar, kaos tangan biar tangan ga gosong, dan motor kesayangan yang masih sangat lengkap (spion dua, smua masih orisinil ga ada yang diotak-atik), aku pun siap mengendarai motor kesayanganku ini. Untuk memutar balik, aku harus mengambil lajur kanan. Setelah aku pastikan jalan dibelakangku kosong akupun mengambil lajur kanan dengan lampu sein kanan yang sudah kunyalakan. Dengan jalan motor yang pelan, ketika aku mau memutar balik tiba-tiba.........
Aku merasa kepalaku terbentur amat keras ke aspal, dua kali seingatku. Dulu, pelatih silatku selalu bilang kalau terjatuh usahakan posisi kepala ditarik ke arah dalam agar tak terbentur. Mungkin reflek yang terjadi kemudian aku pun berusaha menarik kepalaku sekuat mungkin. Tapi kakiku terasa sangat panas dan aku hanya ingin berdiri! Syukurlah seorang ibu dan suaminya menolongku. Entah mengapa tiba-tiba aku menangis, meski sebetulnya aku tidak sedih.
Setelah mencoba menenangkan diri, akhirnya aku tahu kalau aku baru saja tertabrak motor di belakangku. Dan sepertinya laki-laki itu menabrakku kencang sekali. Karena keadaanku masih kaget, aku pun tak mau peduli dengan siapa atau bagaimana kondisi orang yang menabrakku. Yang penting waktu itu adalah keadaanku baik-baik saja dan aku masih bisa mengendarai motorku dengan baik untuk segera menuju kantor.
Dalam perjalanan, aku masih sedikit shock, apalagi ketika aku sadar kalau ternyata kaos kaki kananku sobek dan aku melihat mata kaki kananku berdarah. Setibanya di kantor, aku bergegas ke kamar mandi untuk membersohkan luka itu. Tapi alangkah kagetnya aku ketika aku menemukan kulit betisku "melonyot". Waduh! Akhirnya aku meminta tolong seorang teman untuk mengantarku ke puskesmas agar lukaku bisa segera dibalut.
Akhirnya, semua ini bisa kulalui dengan sebaik mungkin. Mudah-mudahan tak ada lagi orang yang mengalami kejadian sepertiku ini. Aku selalu berusaha berkendara sebaik mungkin dan memahami peraturan-peraturan lalu lintas. Apa salahku sehingga tiba-tiba aku tertabrak dan sampai sekarang harus berjalan dengan kaki yang memar-memar, tulang ekor dan panggul yang sakit, serta leher yang sulit digunakan untuk mengangkat kepala.
Andai saja waktu setelah tertabrak itu sifat asliku keluar pasti aku sudah meneriaki orang yang menabrakku dengan umpatan-umpatan. Syukurlah itu tak terjadi. Tapi mungkin setidaknya aku ingin berkata "Capek deeeehhh...buta apa ya mas? Righting ke kanan artinya mo belok kanan, jangan disalip dari kanan dong mas! Lo disekolahin ga sih?"