lupie aja
Hey...the new day is today! Yesterday was my last day working in my old company. I have double feeling now. First, now I'm feeling free because I don't have any responsibilities to catch my assignments deadline (like I used to ;p). Second, I'm still confuse...hahaha... I don't know why do I often have such this feeling.

But...now I have chance to make my dream come true! It's a little bit more, with so much time and energy to pay for - of course. Yup! With a lot of prayers, I'm gonna be somewhere I really want to go! Amin...amin...amin
lupie aja
Pusing...pusing...pusing
Cerita punya cerita, dua minggu terakhir ini saya lumayan disibukkan dengan proyek suksesi salah satu capres. Bukannya senang karena dapat proyek (lumayan) besar (dan kalau benar-benar sukses bisa menjadi nilai plus untuk portofolio saya :p), saya malah sedikit malas mengerjakannya, alasannya:

1. Brief yang tak jelas
Ini dia yang bisa membuat seorang copywriter seperti saya tersesat. Brief yang tak jelas menandakan ada yang tidak beres dengan "produk" ataupun manajemen yang mengelola produk tersebut. Bak "tak kenal maka tak sayang", brief inilah yang menjadi jembatan antara si empunya kepentingan dengan yang diserahi tanggung jawab.Brief yang tak jelas menyebabkan efek domino yang berkepanjangan.

2. Strategi yang tak jelas
Karena tidak dibekali dengan brief yang mumpuni, sang strategic planner akhirnya menerka-nerka strategi apa yang akan ditempuh agar "produk" bisa bertarung di media dan menyampaikan pesan yang berdampak positif bagi "produk" tersebut.

4. Fakta yang tak jelas
Berhubung sulit sekali menemukan fakta yang benar-benar "bermanfaat", maka jangan salahkan ibu mengandung jika tim kreatif menyimpulkan bahwa "produk" ini kurang potensial untuk "dijual".

3. Pesan yang tak jelas
Ini jelas terjadi jika proses yang mengawalinya serba tak jelas. Bagaimana akan mengomunikasikan pesan yang "membidik" jika para kreator tidak dibekali dengan informasi-informasi yang dibutuhkan.

Kalau saya sebagai pribadi, jika diberi pilihan, jelas saya ingin memilih untuk mundur saja dari proyek ini. Rasa-rasanya tak tega mempertaruhkan kedudukan RI1 kepada orang yang membuat brief untuk suksesi iklannya saja serba tak jelas.
lupie aja
Pusing deh merhatiin dunia perpemiluan sekarang. Bukannya pemilu (pemilihan umum) bisa-bisa malah jadi pemilu (bikin hati pilu). Apalagi merhatiin poster ato baligo para caleg, cuma bikin pusing doang. Emangnya ada yang mau liat wajah mereka apa ya? Wong di satu perempatan aja baligo caleg pada umpel-umpelan. Bikin sakit mata aja! Indahnya kota jadi ternoda deh. (*lebay dot com ah ;b)
Parahnya, bukannya mendidik, baligo yang bertebaran itu seringkali berisi nada sindiran. Kalo wacana calegnya aja maen sindir sana sindir sini, kapan rakyat negara ini bisa belajar pendidikan politik yang lebih baik?

Nah, sebagai praktisi yang berkecimpung di industri kreatif (*cieee....)boleh dong mengomentari desain baligo caleg. Meski musim pemilu ini banyak pihak yang kebanjiran order; misalnya digital printing, sablon kaos, ato agency iklan yang notabene sudah terbiasa menata tampilan grafis tapi saya nilai itu belum cukup. Coba lihat, desain baligo caleg tak cukup indah dalam kaidah artistik. Padahal, ada semiotika dalam setiap unsur grafis yang ditampilkan, dan otomatis hal ini memengaruhi maksud pesan yang ingin disampaikan dengan pesan yang ditangkap. Apalagi dari segi copywriting, rasa-rasanya hampir tak ada baligo caleg yang menampilkan visi dan misi dahsyat yang bisa membuat massa mau melirik.

Inti dari semuanya adalah komunikasi. Grafis tak akan membantu jika pesan yang disampaikan tak jelas, pun sebaliknya. Anda setuju?
lupie aja
Kejadian dua hari lalu tak pernah aku duga sebelumnya. Seperti rutinitas tiap harinya, sebelum berangkat kerja aku mengantar kakak hingga setengan perjalanan ke tempat kerjanya nun jauh di Sleman sana. Hanya saja, yang berbeda dari hari-hari sebelumnya, setelah mengantar aku pergi ke sebuah digital printing di daerah Ring Road Utara. Tapi, ternyata tempat itu belum buka hingga aku memutuskan untuk pergi ke digital printing di daerah Gejayan.

Untungnya tempat digital printing di Gejayan ini sudah buka. Waktu menunjukkan pukul 8.15 waktu aku sampai. Setelah menunggu setengah jam, cetakanku sudah kelar. Jamku sudah berangka 8.45. Wah, aku kudu buru-buru ke kantor karena aku sudah telat terlalu lama. Kalau presensiku lewat dari jam 9.00, gajiku pasti dipotong.

Untuk menuju kantor, aku harus memutar balik jalan, karena jalan di daerah ini memiliki dua lajur yang terpisah. Setelah siap dengan helm standar, kaos tangan biar tangan ga gosong, dan motor kesayangan yang masih sangat lengkap (spion dua, smua masih orisinil ga ada yang diotak-atik), aku pun siap mengendarai motor kesayanganku ini. Untuk memutar balik, aku harus mengambil lajur kanan. Setelah aku pastikan jalan dibelakangku kosong akupun mengambil lajur kanan dengan lampu sein kanan yang sudah kunyalakan. Dengan jalan motor yang pelan, ketika aku mau memutar balik tiba-tiba.........

Aku merasa kepalaku terbentur amat keras ke aspal, dua kali seingatku. Dulu, pelatih silatku selalu bilang kalau terjatuh usahakan posisi kepala ditarik ke arah dalam agar tak terbentur. Mungkin reflek yang terjadi kemudian aku pun berusaha menarik kepalaku sekuat mungkin. Tapi kakiku terasa sangat panas dan aku hanya ingin berdiri! Syukurlah seorang ibu dan suaminya menolongku. Entah mengapa tiba-tiba aku menangis, meski sebetulnya aku tidak sedih.

Setelah mencoba menenangkan diri, akhirnya aku tahu kalau aku baru saja tertabrak motor di belakangku. Dan sepertinya laki-laki itu menabrakku kencang sekali. Karena keadaanku masih kaget, aku pun tak mau peduli dengan siapa atau bagaimana kondisi orang yang menabrakku. Yang penting waktu itu adalah keadaanku baik-baik saja dan aku masih bisa mengendarai motorku dengan baik untuk segera menuju kantor.

Dalam perjalanan, aku masih sedikit shock, apalagi ketika aku sadar kalau ternyata kaos kaki kananku sobek dan aku melihat mata kaki kananku berdarah. Setibanya di kantor, aku bergegas ke kamar mandi untuk membersohkan luka itu. Tapi alangkah kagetnya aku ketika aku menemukan kulit betisku "melonyot". Waduh! Akhirnya aku meminta tolong seorang teman untuk mengantarku ke puskesmas agar lukaku bisa segera dibalut.

Akhirnya, semua ini bisa kulalui dengan sebaik mungkin. Mudah-mudahan tak ada lagi orang yang mengalami kejadian sepertiku ini. Aku selalu berusaha berkendara sebaik mungkin dan memahami peraturan-peraturan lalu lintas. Apa salahku sehingga tiba-tiba aku tertabrak dan sampai sekarang harus berjalan dengan kaki yang memar-memar, tulang ekor dan panggul yang sakit, serta leher yang sulit digunakan untuk mengangkat kepala.

Andai saja waktu setelah tertabrak itu sifat asliku keluar pasti aku sudah meneriaki orang yang menabrakku dengan umpatan-umpatan. Syukurlah itu tak terjadi. Tapi mungkin setidaknya aku ingin berkata "Capek deeeehhh...buta apa ya mas? Righting ke kanan artinya mo belok kanan, jangan disalip dari kanan dong mas! Lo disekolahin ga sih?"
lupie aja


<-- Ini dia yang bikin tungkuk saya pegel!

Begini ceritanya, seminggu ke belakang saya berkutat dengan desain-desain packaging. Mencari referensi-referensi packaging yang kira-kira bisa menciptakan citra yang baik di benak konsumen. Yah, kalimat gampangnya bagaimana caranya packaging itu nantinya bisa membuat calon konsumennya merasa "love at first sight".

Lumayan juga, akhirnya saya dapat beberapa referensi bagus dari buku-buku import. Kebetulan, seorang teman juga memberi saya file Corel beberapa pola-pola desain packaging. Tapi sayang, meski desainnya bagus-bagus, rasanya sulit sekali untuk dieksekusi. selain brand yang akan saya promosikan masih baru, penjualannya pun belum massal. Jadi, untuk mengesekusi pola-pola desain yang indah itu membutuhkan jasa percetakan yang otomatis setidaknya saya harus memesan 1000 piece yang berarti juga budgetnya terlalu besar.

Cerita punya cerita, saya beride untuk mengeksekusinya secara manual. Dengan penuh perhitungan, andai saya buat sebanyak 50 packaging secara manual, itu berarti bisa menghemat biasa produksi. belum lagi desain packagingnya yang unik, saya yakin belum ada brand lain yang menyamai.

Pertama, untuk menyesuaikan dengan ukuran produk, saya merubah sedikit pola yang sudah ada. Saya coba buat dummynya dulu. Seharian berkutat dengan Corel Draw, printer yang tintanya sekarat, karton, gunting, cutter, mistar, dan juga lem, akhirnya...yang tersisa hanya PEGEL!!! :D :D :D

Pupus sudah bayangan membuat 50 buah, manual lagi! Bikin satu saja sudah cukup membuat tubuh saya seperti budak yang bekerja sehari tanpa makan. Memang untuk mendapatkan yang terbaik, kita harus mau berjuang dengan sebaik mungkin juga.

Wah...bikin packaging memang sulit, apalagi maksudnya untuk membentuk citra yang baik untuk brandnya. Sepertinya saya harus lebih lama "bertapa" untuk mendapatkan ide desain package yang bagus, murah tapi tidak murahan, eksklusif, dan "menjual".
lupie aja
New year is a new hope for me. I will have a new status. Yup! In the end of this month I'm gonna be unemployed. Why? Because I resigned, of course.
It was a difficult decision, but I have to make it anyway. Here, in my company, I've been learning a lot of things and facing different kind of persons. Like and dislike is are usual things here. Or being not appreciated and mocked.
Life must go on. I just wanna try better opportunities for my future. Yes, I am confused by my thought about being fail and hunger. But it's just a thought, right?
Yeah, I'll make this year better.