lupie aja

Dua hal yang membuat saya sering memutar otak. Bahkan dalam sebuah wawancara kerja, saya ditanya tentang perbedaan dari keduanya. Meski berpikir at a glance, saya jawab saja bahwa keduanya adalah hal yang bertolak belakang. Disiplin adalah sesuatu yang sudah semestinya dimiliki oleh setiap orang untuk memenuhi kewajibannya, sedangkan fleksibel merupakan hal yang mungkin dipenuhi agar seseorang tidak kehilangan haknya.

Lalu si pewawancara pun meminta contoh yang lebih konkrit tentang perbedaan antara keduanya. Gampang saja saya pikir, misal; sebagai seorang karyawan yang perusahaannya memiliki jam kerja dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore, maka si karyawan pun harus mengikuti aturan itu. Jika si karyawan mematuhinya, maka dia sudah berperilaku disiplin. Namun, jika si karyawan melanggar, (menurut saya) seharusnya dia diberi punishment atas ketidakdisiplinannya itu.

Berbeda dengan fleksibel, sebagai seorang yang beragama, si karyawan berhak untuk menjalankan ibadahnya, atau mungkin ia harus meninggalkan tempat kerja karena orang tuanya meninggal dunia.

Tapi, saya berpegang bahwa keduanya adalah hal yang penting. Bayangkan mau jadi apa seseorang tanpa sebuah kedisiplinan dalam dirinya. Atau, bayangkan jika kita tidak memiliki sifat yang fleksibel, mungkin kita akan dijauhi karena menjadi orang yang sangat kaku. Silakan berpusing-pusing ria dengan pendapat saya ini. ^_^

lupie aja
Kisah bermula ketika sang sahabat mengunjungiku. Ckakak-ckikik ngobrol ga jelas alurnya. Merasa bak masih anak muda. Topik obrolan hanyalah sputar sang pujaan sesaat. AFGAN SYAH REZA. Malu juga ngobrolin penyanyi yang umurnya 5 tahun lebih muda.

Emang sih, makhluk bernama Afgan ini lagi digandrungi banyak remaja cewek. Meski udah ga remaja lagi, aku dan sang sahabat ikut-ikutan suka sama Afgan. Alhasil, pembicaraan yang ga jelas juntrungannya itu malah mengarah pada hal-hal yang irasional (sbetulnya sih aku yang ada aja jalan buat mengarahkan). Geli juga kalo diingat-ingat. Ya ampuuuun!!! Umur dah musim nikah gini ya yang diomongin slalu ”diarahkan” ke tema pernikahan. Siapa pula yang ga mau kalo disodorin Afgan, cowok (lumayan) ganteng, suaranya bagus, terkenal, kuliah di UI lagi! Halah, pikiran yang terlalu macam-macam!

Biasanya, seperfect apapun manusia, ada aja jeleknya (dan topik ini juga jadi bahan obrolan kami). Aku masih bersyukur Afgan ada celanya di mata kami. Kalo ga, wah...urusan jadi berabe kalo tiap saat, tiap waktu mikirin and ngomongin Afgan terus. Thanks Afgan, u save us! ^_^

But anyway, Afgan still can be perfect in my eyes...
lupie aja
paham apa ini afganisme? whatever...
i just like him (afgan syah reza, of course!), for this time.